Selasa, 16 Oktober 2012

Hakikat Wacana


HAKIKAT WACANA
A.  Pengertian: wacana, teks, konteks, ko-teks
1.      Wacana
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Menurut Alwi, dkk (2003:42), wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat  atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata. Lebih lanjut, Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap yang disajikan secara teratur dan membentuk suatu makna.
2.      Teks
Seringkali istilah wacana atau discourse dikacaukan pengertiannya dengan teks. Halliday dan Hasan (1976) menyatakan bahwa wacana tidak sama dengan teks. Mereka membedakan teks sebagai suatu yang mengacu pada bahasa tulis, sedangkan wacana pada bahasa lisan (Oetomo, 1993: 4). Sejalan dengan ini Widdowson (1979) juga mengemukakan bahwa teks merupakan unsur permukaan yang berkaitan dengan keutuhan (kohesi), dan wacana  berada pada struktur bathin yang lebih berkaitan dengan koherensi. Selanjutnya, Brown danYule (1996: 6) menyatakan bahwa teks digunakan sebagai istilah teknis untuk mengacu pada rekaman verbal suatu tindak atau peristiwa komunikasi.
3.      Konteks
Secara etimologi kata konteks berasal dari bahasa Inggris context yang berarti (1) hubungan kata-kata (2) suasana, keadaan (Echolds dan Hassan, 1989: 143). Dari batasan secara etimologis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa konteks ini pada dasarnya adalah segala sesuatu (benda, keadaan, suasana) yang berada di sekitar wacana yang berpengaruh atau mendukung terhadap keterpahaman wacana yang bersangkutan.
Leech (1983) menyatakan konteks adalah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadai sebuah tuturan. Selanjutnya Schiffrin (1994) membedakan antara kontek dengan teks dengan menjelaskan bahwa teks merupakan isi linguistik dari tuturan-tuturan, arti semantik dari kata-kata, ekspresi, dan kalimat. Teks juga merupakan sistem kebahasaan yang terdiri atas beberapa komponen yang saling berhubungan dan masing-masing komponen tersebut juga mempunyai otonomi. Adapun konteks adalah “pengetahuan”, “situasi”, dan “teks”.
Cook (1994) membedakan pengertian konteks menjadi dua yaitu, konteks dalam pengertian sempit dan dalam pengertian luas. Dalam pengertian sempit, konteks mengacu pada faktor di luar teks. Sedang dalam pengertian luas, konteks dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yaang relevan dengan ciri dunia dan ko-teks.
4.      Ko-teks
Ko-teks menurut (Cooks, 1994) adalah hubungan antar wacana yang merupakan lingkungan kebahasaan yang melingkupi suatu wacana. Dengan begitu makna ujaran ditentukan oleh teks sebelum dan sesudahnya. Ko-teks ini dapat berwujud ujaran, paragraf, atau wacana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ko-teks adalah konteks yang bersifat fisik, yakni konteks lingkungan.
Koteks suatu kata adalah kata-kata lain yang digunakan di dalam frasa atau kalimat yang sama. Koteks mempunyai pengaruh yang kuat dalam penafsiran makna. Mey (1993) mendefinisikan ko-teks sebagai sebuah kalimat (tunggal ataupun ganda) yang merupakan bagian dari teks yang (kurang lebih secara langsung) mengelilinginya. Ko-teks dari tuturan semacam ini tidak memadai untuk memahami kata-kata, kecuali jika mencakup sebuah pemhaman dari tindak-tindak yang terjadi sebagai bagian dan hasil dari kata-kata tersebut. untuk memahami tingkah laku linguistik orang, kita perlu mengetahui segala hal tentang penggunaan bahasa mereka; yaitu, kita harus melihat lebih jauh dari sekedar ko-teks tuturan dan memperhatikan keseluruhan lingkungan linguistik ke dalam pandangan kita.
Hal ini berarti bahwa kita harus memperluas visi kita dari ko-teks menjadi konteks: Yaitu, keseluruhan dari lingkungan (bukan hanya linguistik) yang mengelilingi produksi bahasa.
B.  Hubungan Wacana dengan Subsistem Kajian Bahasa
Kajian tentang wacana tidak bisa dipisahkan dengan kajian bahasa lainnya, baik pragmatik maupun keterampilan berbahasa.

1.    Wacana dan Pragmatik
Pragmatik berhubungan dengan wacana melalui bahasa dan konteks. Dalam hal ini dapat dibedakan tiga hal yang selalu berhubungan yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaksis merupakan hubungan antar unsur, semantik adalah makna, baik dari setiap unsur maupun makna antar hubungan (pertimbangan makan leksikal dan gramatikal), dan pragmatik berhubungan dengan hasil ujaran (pembicara dan pendengar atau penulis dan pembaca)
2.    Hubungan Gramatikal dan Semantik dalam Wacana
Hubungan antarproposisi yang terdapat pada wacana (kalimat) dapat dipertimbangkan dari segi gramatika (memiliki hubungan gramatikal) dan dari segi semantik (hubungan makna dalam setiap proposisi)
a)    Hubungan Gramatikal
Unsur-unsur gramatikal yang mendukung wacana dapat berupa.
(1)   Unsur yang berfungsi sebagai konjungsi (penghubung) kalimat atau satuan yang lebih besar, seperti dengan demikian, maka itu, sebabnya, dan misalnya.
(2)   Unsur kosong yang dilesapkan mengulangi apa yang telah diungkapkan pada bagian terdahulu (yang lain) misalnya: Pekerjaanku salah melulu, yang benar rupanya yang terbawa arus.
(3)   Kesejajaran antarbagian, misalnya: Orang mujur belum tentu jujur. Orang jujur belum tentu mujur.
(4)   Referensi, baik endofora (anafora dan katafora) maupun eksofora. Referensi (acuan) meliputi persona, demonstratif, dan komparatif.

(5)   Kohesi leksikal
Kohesi leksikal dapat terjadi melalui diksi (pilihan kata) yang memiliki hubungan tertentu dengan kata yang digunakan terdahulu. Kohesi leksikal dapat berupa pengulangan, sinonimi dan hiponimi, serta kolokasi.
(6)   Konjungsi
Konjungsi merupakan unsur yang menghubungkan konjoin (klausa/kalimat) di dalam wacana.
b)   Hubungan semantik
Hubungan semantik merupakan hubungan antarproposisi dari bagian-bagian wacana. Hubungan antarproposisi dapat berupa hubungan antar klausa yang dapat ditinjau dari segi jenis kebergantungan dan dari hubungan logika semantik. Hubungan logika semantik dapat dikaitkan dengan fungsi semantik konjungsi yang berupa (1) ekspansi (perluasan), yang meliputi elaborasi, penjelasan/penambahan, dan (2) proyeksi, berupa ujaran dan gagasan
3.        Wacana dan Keterampilan Berbahasa
Pembahasan wacana berkaitan erat dengan pembahasan keterampilan berbahasa terutama keterampilan berbahasa yang bersifat produktif , yaitu berbicara dan menulis. Baik wacana maupun keterampilan berbahasa, sama-sama menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.
C.      Perkembangan Kajian Wacana
Istilah wacana  pertama kali diperkenalkan oleh Harris (1952) dengan mengkaji kaidah bahasa dan menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat dalam suatu teks dihubungkan oleh semacam tatabahasa yang diperluas (Cook, 1989:13), dan saat itu Harris banyak ditentang oleh para linguis Amerika yang sepaham dengan Franz Boas, Edward Sapir, dan Bloofield.  Menurut kelompok linguis tersebut, Harris melawan arus, dan kajian bahasa sepatutnya berfokus pada bentuk dan substansi bahasa itu sendiri, bukan aspek lain seperti yang dikaji Harris.
Di Eropa (terutama Inggris dan Jerman), tahun 1961 muncul tata bahasa sistemik yang banyak dipelopori oleh Halliday. Dalam kajiannya, banyak dilakukan analisis pengaturan tematik terhadap kalimat, hubungan antarakalimat, dan wacana. Ancangan ini sebenarnya telah lama disarankan oleh linguis Eropa, seperti Bronislaw Malinowski, Vladimir Propp, Mathesius, Karl Buhler, Louis Hjelmslev, dan Firth. Selanjutnya, di Perancis banyak berkembang analisis wacana dengan pendekatan semiotik, dengan tokoh-tokoh seperti Todorov, Barthes, Greimas, dan Eco.
Tahun 1964 di Amerika, Dell Hymes mengembangkan ancangan sosiolinguistik dalam pengkajian wicara, komunikasi, dan bentuk sapaan, yang nantinya akan menjadi kajian wacana yang luas dan berkembang. Setelah itu, analisis wacana di Amerika diteruskan oleh ahli linguistik tagmemik, seperti Knneth Pike (1967) dan konsepsi yang dikembangkan lebih luas daripada Harris. Pada saat itu Pike menganjurkan bahwa penelitian bahasa yang tidak mengenal kamus dan tidak ada informan bilinggual,  dalam meneliti harus memperhatikan segala nuansa makna bahasa  dalam penggunaan, yakni konteks sosialnya.
Awal tahun 1970-an banyak telaah filsafat mengenai tindak ujar, yang dipelopori ahli filsafat seperti Austin, Grice, dan Searle. Dalam pandangan filsof ini, uajaran verbal bukan kalimat semata, tetapi bentuk tindakan sosial tertentu. Apabila kalimat digunakan dalam suatu konteks sosial, suatu kalimat tidak hanya memiliki makna kalimat itu sendiri, tetapi  juga mempunyai makna atau fungsi ilokusi, berdasarkan niat, kepercayaan, atau makna antarhubungan antara si penutur dan pendengarnya. Perkembangan ini selanjutnya, memberikan dimensi pragmatik terhadap studi wacana (van Dijk, 1985:5).
Dalam kajian antropologi juga berkembang etnografi penuturan (etnografi komunikasi), yang banyak menganalisis peristiwa komunikasi dalam berbagai budaya; seperti dipelopori oleh John Gumperz, Dell Hymes. Dari bidang sosiologi muncul kajian sosiologi mikro yang mengkaji penggunaan bahasa alamiah dalam masyarakat tertentu, yang dikenal etnometodologi. Kajiannya juga dikenal dengan analisis percakapan, dengan tokoh-tokoh seperti Harvey Sacks, Erving Goffman, dan Emmanuel Schegloff. Tradisi analisis wacana benar-benar berkembang setelah tahun 1970-an.
Pada era ini banyak bermunculan teori wacana, misalnya Stubs (1983), Brown dan Yule (1983), dan van Dijk (1985). Pokok persoalan atau fokus kajian pada era ini juga telah meluas, seperti tentang perbedaan gender, politik, emansipasi manusia dan masyarakat, dalam kaitannya dengan wacana. Demikian juga tahun 1990-an, misalnya munculnya tulisan Deborah Schiffrin (1994), Guy Cook (1994), Norman Fairlough (1998).  Tahun 2000-an kajian wacana  berkembang lebih kaya, misalnya munculnya kajian  pengaruh gaya kognitif terhadap produksi wacana (Semino dan Culpeper, 2002).

 




       FUNGSI BAHASA DAN KAITANNYA
DENGAN ANALISIS WACANA


Secara umum fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Fungsi bahasa tersebut dikelompokkan kepada 2 kategori utama yaitu fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Brown dan Yule (1996: 1) menjelaskan fungsi transaksional bertujuan untuk menyampaikan informasi faktual atau proposisional. Sedangkan fungsi interaksional bertujuan untuk memantapkan dan memelihara hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi.
Wacana dengan unit konversasi memerlukan unsur komunikasi yang berupa sumber (pembicara san penulis) dan penerima (pendengar dan pembaca). Semua unsur komunikasi berhubungan dengan fungsi bahasa (Djajasudarma, 1994:15). Fungsi bahasa meliputi (1) fungsi ekspresif yang menghasilkan jenis wacana berdasarkan pemaparan secara ekspositoris, (2) fungsi fatik (pembuka konversasi) yang menghasilkan dialog pembuka, (3) fungsi estetik, yang menyangkut unsur pesan sebagai unsur komunikasi, dan (4) fungsi direktif yang berhubungan dengan pembaca atau pendengar sebagai penerima isi wacana secara langsung dari sumber.
Selanjutnya Halliday (1970, 1973) dalam Leech (1993:86) membedakan tiga fungsi bahasa atas fungsi idesional, interpersonal, dan tekstual. Pada fungsi idesional bahasa dipakai untuk alat pengungkap sikap penutur dan pengaruhnya pada sikap dan perilaku penutur. Sedangkan pada fungsi tekstual bahasa difungsikan sebagai alat untuk membangun dan menyusun sebuah teks. Lebih lanjut Halliday menjelaskan bahwa interpersonal terdiri atas fungsi ekspresif dan informatif sebagaimana telah dikemukakan Popper.
Pada dasarnya pengenalan terhadap berbagai fungsi bahasa akan sangat membantu dalam penelaahan wacana. Sebaliknya tanpa pengenalan terhadap berbagai fungsi bahasa akan dapat menjadi halangan di dalam menginterpretasikan sebuah wacana. Seorang penganalisis wacana di dalam menganalisis sebuah wacana harus selalu mengaitkan bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dengan tujuan dan fungsi di mana dan untuk apa bahasa itu digunakan dalam wacana tersebut.
Analisis wacana pada prinsipnya adalah analisis satuan-satuan bahasa di atas kalimat yang digunakan dalamproses komunikasi. Untuk itu analisis tidak dapat dibatasi pada pembentukan bahasa yang bebas dari tujuan dan fungsinya. Karena itu, wacana berkaitan erat dengan fungsi bahasa.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar