Selasa, 16 Oktober 2012

Unsur Utama Pembentuk Wacana




Konsep Kohesi dan Koherensi

            Kohesi dan koherensi tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Dua istilah ini merupakan satu kesatuan yang selalu melekat. Sebuah teks terutama teks tulis memerlukan unsur pembentuk teks. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk teks yang penting. Menurut Mulyana (2005: 26) menyatakan bahwa kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Sejalan dengan hal tersebut Anton M. Moeliono (dalam Mulyana, 2005: 26) menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh menayaratkan kalimat-kalimat yang kohesif. Kohesi wacana terbagi di dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatika dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal antara lain adalah referensi, subtitusi, ellipsis, konjungsi, sedangkan yang termasuk kohesi leksikal adalah sinonimi, repetisi, kolokasi.
            Sejalan dengan pendapat di atas Yayat Sudaryat (2008: 151) menyatakan bahwa kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam organisasi sintaksis, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Sedangkan Abdul Rani, Bustanul arifin, Martutik (2006: 88) menyatakan bahwa kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai oleh penggunaan unsure bahasa. Gutwinsky (dalam Yayat Sudaryat, 2008: 151) menyatakan bahwa kohesi mengacu pada hubungan antarkalimat dalam wacana, baik dalam tataran gramatikal maupun tataran leksikal. Agar wacana itu kohesif, pemakai bahasa dituntut untuk mengetahui pemahaman tentang kaidah bahasa, realitas, penalaran (simpulan sintaksis). Oleh karena itu, wacana dikatakan kohesif apabila terdapat kesesuaian bentuk bahasa baik dengan ko-teks (situasi dalam bahasa) maupun konteks (situasi luar bahasa). Konsep kohesi pada dasarnya mengacu pada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Menurut H. G. Tarigan (dalam Mulyana, 2005: 26) mengemukakan bahwa penelitian mengenai kohesi menjadi bagian dari kajian aspek formal bahasa. Oleh karena itu, organisasi dan struktur kewacanaanya juga berkonsentrasi dan bersifat sintaktik gramatikal.
            Brown dan Yule (dalam Abdul Rani, dkk, 2006: 87) menyatakan bahwa unsur pembentuk teks itulah yang membedakan sebuah rangkaian kalimat itu sebagai sebuah teks atau bukan teks. Hal tersebut juga diperkuat lagi dengan pendapat Anton M. Moeliono ( dalam Sumarlam, dkk, 2009: 173) bahwa kohesi merupakan hubungan semantik atau hubungan makna antara unsur-unsur di dalm teks dan unsur-unsur lain yang penting untuk menafsirkan atau menginterpretasikan teks; pertautan logis antarkejadian atau makna-makna di dalamnya; keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik. Maka untuk memperoleh wacana yang baik dan utuh diharapkan kalimat-kalimatnya harus utuh. Hanya dengan hubungan kohesif seperti itulah suatu unsur dalam suatu wacana dapat diinterpretasikan, sesuai dengan ketergantungan unsur-unsur lainnya. Hubungan kohesif dalam wacana sering ditandai oleh kehadiran penanda khusus yang bersifat lingual formal.
            Kohesi dapat dibedakan atas beberapa jenis. Pembedaan tesebut dapat di jabarkan dalam kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal dan leksikal ini merupakan bagian dari kohesi endosentris. Karena kohesi dibagi menjadi dua ada kohesi endosentrsi dan kohesi eksosentris. Kohesi gramatikal terdiri dari: referensi, subtitusi, ellipsis, paralelisme, dan konjungsi. Sedangkan konjungsi leksikal terdiri dari: sinonimi, antonimi, hiponimi, kolokasi, repetisi dan ekuivalensi.
            Untuk membentuk wacana yang baik dan padu tidak cukup hanya mengandalkan hubungan kohesi. Menurut Cook (dalam Abdul Rani, dkk, 2006: 872) menyatakan bahwa penggunaan alat kohesi itu memang penting untuk membentuk wacana yang utuh, tetapi tidak cukup meggunakan penanda katon tersebut. Ada faktor lain seperti relevansi dan faktor tekstual luar (extratextual factor) yang ikut menentukan keutuhan wacana. Kesesuaian antara teks dan dunia nyata dapat membantu menciptakan suatu kondisi untuk membantuk wacana yang utuh. Faktor lain seperti pengetahuan budaya yang juga membantu dalam menciptakan koherensi teks. Agar wacana yang kohesif baik, maka perlu dilengkapi dengan koherensi. Menurut Abdul Rani, dkk (2006:89) yang dimaksud koherensi adalah kepaduan hubungan maknawi antara bagian-bagian dalam wacana.
            Mulyana (2005: 30) di dalam bukunya yang berjudul “Kajian Wacana” banyak mengutip pendapat-pendapat ahli berkaitan dengan koherensi. Adapun pendapat tersebut adalah sebagai berikut, menurut H. G. Tarigan (1987) istilah koherensi mengandung makna pertalian, dalam konesp kewacanaan berarti pertalian makna atau isi kalimat. Gorys Keraf (1984) menyatakan bahwa koherensi juga berarti hubungan timbal balik yang serasi antarunsur dalam kalimat. Sejalan dengan pendapat tersebut Wahjudi (1989) berpendapat bahwa hubungan koherensi keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Sedangkan Samiati (1989) berpendapat bahwa wacana yang koheren memiliki cirri-ciri: susunanya teratur dan amanatnya terjalin rapi, sehingga muda diintepretasikan. Pendapat-pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Brown dan Yule (dalam Mulyana, 2006: 30) yang menegaskan bahwa berarti keterpaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan.
            Dalam sebuah wacana aspek koherensi sangat diperlukan keberadaannya untuk menjaga pertalian batin antara proposisi yang satu dengan lainnya untuk mendapatkan keutuhan. Keutuhan yang koheren tersebut dijabarkan oleh adanya hubungan-hubungan makana yang terjadi antarunsur (bagian) secara semantik. Hubungan tersebut kadang terjadi melalui alat bantu kohesi, namun kadang-kadang terjadi tanpa bantuan alat kohesi. Secara keseluruhan hubungan makna yang bersifat koheren menjadi bagian dari organisasi semantis.
            Halliday dan Hasan (dalam Mulyana, 2005: 31) menegaskan bahwa struktur wacana pada dasarnya bukanlah struktur sintaktik, melainkan struktur semantic, yakni semantic kalimat yang di dalamnya mengandung proposisi-proposisi. Sebab beberapa kalimat hanya akan menjadi wacana sepanjang ada hubungan makna (arti) di antara kalimat-kalimat itu sendiri. Keberadaan unsure koherensi sebetulnya tidak hanya pada satuan teks semata (scara formal), malainkan pada kemampuan pembaca atau pendengar dlam menghubungkan dan menginterpretasikan suatu bentuk wacana yang diterimanya. Maka dari pendapat tersebut diperkuat dan disimpulkan oleh Mulyana (2005:31) hubungan koherensi adalah sutau rangkaian fakta dan gagasan yang teratur yang tersusun secara logis. Koherensi dapat terjadi secara implisit (terselubung) karena berkaitan dengan bidang makna yang memerlukan interpretasi. Pendapat tersebut juga diyakini oleh Yayat Sudaryat (2008: 152) koherensi adalah kekompakan hubungan antar kalimat dalam wAcana. Meskipun begitu, interpretasi wacana berdasarkan struktur sintaksis dan leksikal bukan satu-satunya cara. Maka koherensi merupakan bagian dari suatu wacana, sebagai organisasi semantic, wadah gagasan yang disusun dalam urutan yang logis untuk mencapai maksud dan tuturan yang tepat.

Pemarkah Kohesi dan Koherensi
1.                  Pemarkah Kohesi
a)                  Referensi atau pengacuan
Adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satua lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya.berdasarkan tempatnya pengacua ini dibedakan menjadi dua yaitu:
a.                   Endofora, acuannya terdapat dalam teks wacana.
b.                  Eksofora, pengacuannya berada di luar teks wacana.
b)                  Subsitusi penyulihan
Subsitusi adalah salah satu jeis kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda (sumarlam, 2003: 2008).
 Contoh: banya benar buah mangga itu berilah saya beberapa.
Jadi di sini beberapa adalah subsitusi dari mangga.
c)                  Elipsis atau pelesapan
Adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya (Suarlam, 2003: 30). Elipsis disebut juga dengan penghilangan salah satu bagian dari unsur kalimat yang sering ditemukan dalam wacana (Ramlan,1984:18)
d)                 Konjungsi atau perangkaian
Adalah salah satu jeniskohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana (Sumarlam, 2003: 32). Secara umum konjungsi dibagi menjadi lima macam yaitu: konjungsi koordinatif, konjungsi subordinatif, konjungsi korelatif, konjungsi antar kalimat, dan konjungsi antar paragraf.
e)                  Repetisi atau pengulangan
Merupakan slaah satu cara untuk mempertahankan hubungan kohesif antar kalimat. Repetisis adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalams ebuah konteks yang sesuai (Sumarlam 2003:35).
2.                  Pemarkah koherensi
a.                   Hubungan makna kausalitas
Hubungan makna kausalitas adalah hubungan sebab akibat yng terjadi antar kalimat atau paragraf, bagian yang satu bermakna sebab dan bagian yang lain bermakna akibat.
Contoh: penulis menyadari skripsi itu masih banyak kekurangannnya. Untuk itu, penulis berharap saran, kritik, dan masukkan yang kontruktif demi perbaikan selanjutnya.
Kalimat pertama bermakna sebab yaitu skripsi bnyak kekurangannya. Makna kedua sebagai akibat yaitu penulis berharap saran.
b.                  Hubungan makna amplikatif
Amplikatif itu berarti penjelasan. Hubungan seperti ini terjadi bila satu bagian tertentu diperjelas oleh bagian lainnya secara semantis.
c.                   Hubungan makna tambahan
Hubungan makna penambhan terjdi apabila bagian lain atau kalimat lain berfungsi sebagai penambh yang lainnya.
                                                                                                 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar